Thursday, June 23, 2011

Mukti Ali: Sebuah Promosi Tanpa ...


"Jang saja fikirkan adalah ini: mengapa pembangunan datang dari kalangan jang dianggap non-agama. Lalu umat Islam misalnja bertanja-tanja bagaimana harus bersikap ... Itulah sebabnja mengapa saja gembira menerima djabatan Menteri Agama.

DAN sehari kemudian, dengan bahwa point warna biru jang tampaknja murahan, Prof.Dr A. Mukti Ali menandatangani naskah timbang-terima dikantornja jang baru. Itu adalah satu kedjadian jang oleh sementara orang dianggap sangat penting. Untuk pertamakalinja setelah lewat lebih 20 tahun, djabatan Menteri Agama dipegang seorang tokoh jang bukan KH -- alias kijai hadji. Dan kijai hadji, istilah seorang ulama jang sudah melakukan ibadah di Mekah, sering dimaksud untuk menandai tokoh-tokoh dari kalangan jang dianggap mempunjai tjara berpikir tertentu. Tegasnja kalangan pesantren tradisionil jang tidak pernah mentjium pendidikan "model umum", apabila tidak model Barat jang seluruh tindakannja didasarkan pada Islam-sentrisme dengan tafsiran kelewat sempit.

Apa boleh buat. Sadar atau tak sadar rupanja definisi jang djelek itu telah di bentuk oleh para KH sendiri, jakni mereka jang selama hampir seumur Republik pegang rol dikantor jang sekarang berdiri megah didjalan Thamrin. Kurang lebih 10 tahun setelah lewatnja masa Menteri-Menteri Agama pertama jang di mulai oleh (Prof. Dr) HM Rasjidi BA dari waktu kewaktu generasi KH semuanja kemudian terdiri dari orang-orang NU. Djasa-djasa mereka tidak sedikit tapi achirnja toch jang tampil adalah sebuah gambaran buram. Betapapun bara menilainja, kenjataan mentjatat tumbuhnja sang Departemen mendjadi satu birokrasi raksasa jang gembung dan rapuh. Disamping itu korupsi dan ketidak-adilan antar-golongan (apabila tidak malah antar-agama) sering didesas-desuskan terdjadi. Djuga pada achirnja Departemen Agama dianggap mewakili satu alam pikiran jang kepadanja orang kehilangan nafsu untuk berdialog.

Warna Lain
Dan tiba-tiba muntjullah Mukti Ali. Ketjil dan tampak lemah, dengan matanja jang tjerdik dan kemampuannja jang tidak didukung oleh kekuatan tradisionil massa, ia mengedjutkan untuk berada di satu dunia jang, diam-diam, tak djarang dituduh sebagai gudang maksiat. Maka koran-!coranpun menji.lrkan identitasnja. Dan orang seperti diliputi satu ketjerahan besar. Mereka menjambut karena memang mengharapkan satu warna jang lain. Setengah dari mereka bahkan menantikan satu perombakan besar, dengan atau tanpa mempertimbangkan tjukup tidaknja persediaan maaf terhadap kemungkinan sesuatu kegagalan. Apabila itu berarti orang lebih tjenderung menghargai itikadnja sebelum Mukti Ali menundjukkan kemampuannja, sambutan meriah itu barangkali tidak meleset.

Pagi itu, diruang Departemen jang tidak begitu luas dan penuh pedjabat tinggi, Mukti Ali telah mengulangi apa jang dikatakannja tentang Departemen ini: agar ia merupakan bagian, part and parcel dari mesin pembangunan. Betapapun ini hanjalah sedjumlah kata-kata belaka. Tetapi karena itu dinjatakannja sebagai hakikat dan tudjuan Departemen Agama "jang harus dipegang lebih dahulu sebelum menentukan program", lagi pula diutjapkannja dengan nada rendah dan mantap, orang pun dibikin pertjaja tentang konsep jang agaknja nanti akan memberikan bangun jang berbeda. Dan disitulah orang melihat gagasan-gagasan. Apa pikiran sang profesor tentang pembangunan dan hubungannja dengan agama, dibidang mana ia akan berada sangat ditengah-tengah?

Medja Bukan Kursi
Ia berdiri dari kursinja dan membuat sekedar pidato -- sementara disamping kanannja duduk orang jang dihormatinja KH Idham Chalid dan sebelah kirinja sahabatnja KHM Dachlan dan Sekdjen Hatiluddin. "Sebagai seorang guru jang selama ini berketjimpung dibidang ilmiah", katanja, "saja akan melihat segala sesuatu menurut adanja. Saja tidak dapat mengatakan medja ini kursi. Medja ini medja". Dan dengan medja dan kursi di maksudkannja kenjataan jang semestinja dituruti setjara djudjur untuk berbual. Itulah kenjataan jang menuntut pemahaman jang lebih lajak tentang fungsi Departemen Agama -- berikut beberapa hal tentang hakikat agama seperti di djumpai oleh sorot mata pembangunan sekarang ini jaitu hal-hal jang dengan bahasa lebih teratur dan beberapa gaja kepenjairan jang enak, disampaikannja pada malam Isra Mi'radj diistana negara.

Sebab sudah sangat dikenal bagaimana orang bitjara tentang agama dari segi kehebatannja -- sematjam: agama adalah unsur mutlak nation building. Agama adalah pentjerminan sila Ketuhanan Jang Maha Esa jang merupakan induk keempat sila lainnja. Tetapi jang djelas sangat penting adalah menarik kenjataan-kenjataan jang tumbuh dari lapangan hidup keagamaan untuk dilihat apa jang mungkin bisa diperbuat. Dengan itu apa jang mungkin berharga pertama kali adalah hapusnja kekurang-pengertian jang mungkin ada tentang agama jang dengan adjaran-adjaran atau sistim teologinja jang tjukup ruwet biasa dianggap mendjadi djuru-bitjara keterbelakangan dan sikap tidak peduli. Untuk hal itu dalam tjeramahnja di Gocthe Institut (TEMPO, 25 September) Mukti Ali lebih terperintji menundjukkan kenjataan bagaimana sistim adjaran agama-agama sebenarnja tak dengan sendirinja mendjadi perintang usaha pemakmuran duniawi.

Dalam sedjarah bahkan dikenal beberapa nama jang djustru dengan semangat agama muntjul sebagai pekerdja kemanusiaan dan pembangunan meskipun tidan dengan tjara sangat modern: Gandhi misalnja. Akan tetapi itu djuga berarti bahwa pemberian tekanan pada penafsiran adjaran agama djuga merupakan faktor jang penting. Untuk satu tjontoh jang djelas, dalam satu prasarannja pada pertemuan Pendidikan Tinggi Da'wah Islam Mukti Ali bahkan memudjikan dan mengandjurkan agar lembaga pendidikan jang diketuai Letdjen Sudirman itu dan jang tugasnja mentjiptakan kader-kader da'wah jang baik, "tidak usah berusaha agar tiap orang pandai bertabligh dan chotbah Djum'at". Sebab apabila seorang jang disebut djuru da'wah djustru bekerdja mentjiptakan sarana-sarana kepentingan umum - seperti projekprojek jang diusahakan PTDI dalam bidang-bidang perkebunan, perikanan darat, peternakan -- maka sendirinja iapun berda'wah.

Tentu dengan pikiran seperti itu bukan maksudnja untuk menutup lapangan chusus para mubaligh dan para chatib seperti djuga pendeta-pendeta. Tapi tampaknja memang dibutuhkan satu keseimbangan dalam masjarakat Islam sekarang ini. Tekanan pada penafsiran dalil-dalil jang sekedar perlu buat apologi diharap lenjap dan harus diganti dengan ketjakapan teknis tanpa menanggalkan adjaran buku agama. Dan ketjakapan teknis inilah jang disebut-sebutnja manakala ia bitjara tentang djumlah 90% umat Islam jang sangat suka diulang-ulang - bahwa "kita memang banjak tapi kita bukan technical majority".

Lebih Dari Teologi
Dari sudut pandangan sematjam itulah ia dipertjaja memandang agama tidak semata-mata sebagai sistim teologi, akan tetapi lebih. Atau djuga, sistim nilai jang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam bermasjarakat. Dalam kertas-kerdjanja pada workshop Lembaga Ekonomi Nasional (Leknas) dimana ia turut pada achir September tahun lalu, disebut sebutnja tentang sosiologi agama jang menurut penglihatannja kurang populer di Indonesia. Dia menganggap agama tidak semata-mata objek perobahan sosial, tapi djuga subjeknja. Dan diberikannja tjontoh agama Kristen Calvinis jang membentuk sikap jang menguntungkan perkembangan ekonomi dinegara-negara Barat tertentu.

Tentu pembangunan ekonomi hanjalah salah-satu dari upaja untuk memberi kan kebahagiaan manusia sebagai satu kebulatan jang utuh. Tetapi djustru di situlah tampak peranan lain agama dalam segi-segi jang setjara teknis tak pernah mendjadi persoalan dalam pembangunan ekonomi. Jakni nilai-nilai jang setjara hakiki membentuk kwalitas hidup dan mendewasakan manusia seperti jang sebenarnja dibutuhkan setiap orang. Maka antara lain untuk mendiaga agar nilai-nilai tersebut tetap tumbuh dengan sedjahtera bersama usaha pentjapaian kemakmuran, iapun mengusulkan plural strategic of development, strategi madjemuk pembangunan, jang mungkin mentolerir beberapa konflik tetapi semuanja bergerak dalam satu tema.

Maka orangpun menjimpulkan bahwa Mukti Ali, jang gagasan-gagasannja punja sumber jang sama dengan gagasan jang di pegang mereka jang tidak berangkat dari lingkungan agama, lebih-lebih dengar kegiatan-kegiatannja di SESKAU, SES KOAD, AKABRI maupun LIPI jakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia adalah tokoh jang bisa diadjak bitjara. Bisa diadjak bitjara djelas merupakan sjarat penting. Bahkan kadang dianggaF lebih penting sebelum lahirnja prestasi

Disaat ini usaha pembangunan berhadap an dengan lapangan dimana beberapa pertentangan ideologis dinilai sebagai perintang. Satu-satu pertentangan djenis tersebut, jang tidak langsung menjentuh usaha pembangunan tapi langsung menjangkut Departemen Agama, adalah pertentangan antar agama. Ini memuntjak pada 1967, tahun pertama djabatan KIM Dachlan. Sebagai sebuah kenangan apa jang telah diperbuat Dachlan? Musjawarah Antar Golongan Agama di selenggarakannja di Djakarta pada Nopember tahun itu. Dan menurut HAnton Timur Djelani MA, Direktur Direktorat Perguruan Tinggi Agama dan Pesantren Luhur Departemen Agama merupakan satu kerdja jang berarti sehingga "sedjak itu terdapat stabilitas kehidupan agama dinegeri kita".

Meskipw1 demikian Musjawarah itu gagal untuk mentjapai satu konsensus konkrit: satu pernjataan bersama bahwa masing-masing pihak tidak akan mendjadikan umat pihak lainnja sasaran da'wah -- seperti dikehendaki golongan Islam. Rebutan Umat Keritjuhan itu lampau sudah. Tapi sisa-sisanja jang pahit bukan tak mungkin diungkit kembali: bila misalnja terlihat lagi kegiatan proletisering, rebutan umat antar agama dan karena kemungkinan-kemungkinan terachir itu tetap ada mengingat misi agama-agama untuk mengabarkan kebenaran jang dijakininja kepada semua orang, apa hal jang paling bidjak diperbuat Departemen Agama jang akan datang, sebelum kasus-kasus muntjul dan membikin gusar? Bagaimana pandangan Mukti tentang keseragaman hidup beragama?

Untuk pertanjaan itu sia-sialah mereka jang berharap memperoleh djawaban jang terlalu chas. Misalnja untuk kasus-kasus rebutan umat jang lampau itu. Dalam pertemuan dialog antar-agama awal tahun jang lalu di Beirut -- salah satu pertemuan agama-agama dunia di mal1a ia turut mengambil bagian -- ahli perbandingan agama ini jang datang atas undangan Dewan Geredja-Geredja se-Dunia mengemukakan pidato 20 menit jang intisarinja: melldukung sikap pihak Islam jang telah disebut.

Tjukup mengherankan bahwa alumnus laculty of Devinity dan Islamic Shdies pada Mc Gill University ini, hanja bertindak seolah djuru bitjara umat Islam dari mana ia berasal. Padahal tak diragukan bahwa -- seperti djuga dalam soal pembangunan bekas mahasiswa dan kolega WC Smith dan Kenneth Morgan ini adalah seoran pluralis. Dan sebagai pluralis apa jang ada dalam angan-angannja adalah apa jang suka disebutnja sebagai pluralistic religion community kesatuan-pergaulan masjarakat agama-agama. Tapi djustru karena jang ditekankannja dalam hal agama-agama adalah pergaulan, community maka orang segera mengingat pandangannja jang "serba" sosiologis -- untuk mana orang boleh membatja terdjemahannja dari sebagian Muqaddamah Ibnu Chaldun - dan permintaannja kepada kaum pembaru untuk memberi harga jang pantas pada sosiologi agama. Maka sampai disini, bukanlah semata-mata karena ia suka mengatakan "I am a Moslem" bila ia berdiri dipihak Natsir, Rasjidi dan kaumnja jang dalam Musjawarah Agama-Agama 1967 mengusulkan agar umat jang sudah beragama (batja: Islam, dan di belakangnja Hindu dan Budha djangan lagi mendjadi sasaran da'wah (Katolik-Kristen).

Sebab usul ini, berbeda dengan kemauan Kristen -- Katolik djelas berbau sesuatu jang sosiologis meskipun tidak berarti bahwa dibelakangnja samasekali tidak ada maksud jang sama dengan pihak "lawan", asal mampu atau kata kanlah sempat. Pemandangan berikut ini diharap memperdjelas soal. Pihak Kaolik-Kristen berkata, bahwa mereka sekarang ini memikul tugas jang berat, jakni menjampaikan pekabaran Indjil sampai keudjung bumi. Bahwa mereka sanggup bekerdja segiat-giatnja dan mengorbankan apa sadja jang ada pada mereka demi mentjapai tudjuan dimaksud. Pihak Islam scbaliknja mengatakan bahwa kalau begitu umat Islampun punja tugas Da'wah jang sama, jang bisa sadja dibidikkan kearah Kristen -- Katolik. Bahwa merekapun bersedia mengorbankan segala-galanja. Kalau begitu tjara berfikir, djelas kedua pihak berada pada posisi jang berhadapan, dan dialog sudah selesai. Sebab masing-masing sudah jakin bahwa kalaupun sampai mati dalam djalan missi atau zending atau da'wah, masing-masing akan dianggap mdrtir atau sjahid dan mendapat Surga.

Tapi bukan itu masalahnja. Masalahnja ialah, lantas bagaimana nasib negara ini? Kwalitas & Kwantitas Dengan pendjelasan pihak Islam sematjam itu, Katolik -- Kristen berdiam diri. Tapi benarkah mereka setudju menghentikan penjiaran? Tidak. Piagam jang disiapkan tidak djadi ditandatangani. Tak heran. Kenjataan menratakan bahwa bila ada seorang sadja jang tadinja di baptis sebagai Katolik masuk Islam, sorak soraipun terdengar dari kalangan terachir. Oleh karena itu walaupun apa jang dikemukakan Mukti Ali dalam dialog Libanon mendapat dukungan dari misal nja Dr Peter Patihamalo tokoh Protestan Indonesia serta tokoh Eastern Orthodox Church, maka masalahnja tetap: bagaimana mengartikan pesan missioner itu sehubungan dengan dibutuhkannja suasana jang sesuai bagi maksud-maksud konstruktif bersama. Maka bila maksud konstrllktit bersama adalah usaha-usalla pembangunan, dan bila Mukti Ali dengan "scgala sosiologismenja" diketahui tampil sebagai djuru bitjara agama jang tidak menghendaki keruwetan berbau teologis mengalahkan missi essensiil agama-agama itu sendiri jang -- seperti telah ditafsirkan -- terikat - senjawa dengan pembangunan, bisa difahami bahwa dalam menghadapi beberapa alternatif ia akan memilih keadaan status quo. Artinja, biarlah agama-agama tak usah menambah pengikut sambil melupakan kwalitas diri masing-masing.

Setidak-tidaknja ini tertjermin dalam sikapnja terhadap "masalah kwantita versus kwalita" umat Islam. Orang memang boleh teringat pada Nurcholish bila bekas Pembantu Rektor Bidang Akademis IAIN Jogja ini, setelah mengatakan bahwa djumlah 90% umat Islam samasekali tidak menundjuk pada technical majority, menjatakan dalam sekian pidatonja: bahwa dalam banjak hal orang memang seharusnja memilih nilai dibanding djumlah. Toch itu tidak berarti bahwa sesuatu jang teologis dalam hubungan antar agama, ditutup samasekali kemungkinan perkembangannja.

Plural religion commnity jang dipeganginja, selain menarik karena menjediakan kesempatan bersaing dan itu harus dilaksanakan setjara terbuka, djuga mensejogiakan dilaksanakannja dialog. Dengan itu dinding-dinding harap didjebol, dan apa jang misalnja di kumandangkan Paus lewat Konsili Vatikan II tentang usaha saling-pemahaman antara Nasrani -- Islam -- Jahudi -- Hindu -- Budha dan Komunis (jang terachir ini dianggap "kepertjajaan" jang tidak mempertjajai adanja Tuhan), harap tidak hanja dilaksanakan oleh Protestan dan Islam sadja. Untuk mentjoba menariknarik pengertian jang dimaksud Mukti tentang dialog ini lebih djauh dari sekedar masalah-masalah sosiologis, orang achirnja akan sampai kepada universitas dan forum-forum jang mungkin dianggap elite -- jakni' ilmu perbandingan agama.

"Dengan dialog", katanja, "akan ternjata bahwa banjak hal sebenarnja bisa bertemu". Bahwa pertemuan ini setjara teknis terdapat dalam ilmu perbandingan agama, agaknja bisa dimengerti sepandjang ilmu tersebut "tidak hanja mengupas perbedaan-perbedaan, tapi djuga titik-titik persamaan", seperti ditulisnja dalam salah satu brosurnja tentang lapangan ilmiah tersebut. Itu berarti bahwa ilmu jang bergerak dalam bidang banding-membanding bukanlah alat apologi dan pembenaran diri sendiri dengan mendjadikan adjaran-adjaran pihak lain sebagai sasaran -- sematjam jang diperbuat oleh sebagian orientalis kuno jang "membahas" Islam dan oleh sebagian penulis muslim jang sekarang ganti menjerang dengan "patriotik'.

Maka, menuruti djedjak gurunja Kenneth Morgan jang menjusun buku-buku sematjam Islam The Straigt Path, Buddhism The Straight Path dengan tjara membiarkan ulama-ulama dari agama-agama itu sendiri berbitjara, iapun berbuat hal jang sama untuk lingkungan IAIN. Dalam djurusan Ilmu Perbandingan Agama jang dipimpim1ja, iang menempati gedung Fakultas Ushuluddin Jogja jang bentuknja persis mesdjid itu, sekarang mengadjar Prof. Baker dari Sekolah Tinggi Theo logia Duta Watjana serta -- menurut pengakuan jang bersangkutan dalam salah satu suratnja kepada TEMPO -- Pater Dick Hartoko dari Katolik.

Saling Pengertian
Bahwa beleid jang sama ternjata datang tidak hanja dari satu fihak, terlihat bila seorang tokoh agama dari Parisada Hindu Dharma memasuki satu ruang di IAIN, atau bila Mukti Ali berdiri disalah satu lokal Akademi Kateketik atau Sekolah Tinggi Theologia Duta Watjana di Jogja dan kabarnja diua STT Satya Watjana di Salatiga (?) Dan, dirumah tempat ia menumpang di Djakarta pada hari-hari pertama djabatannja sebagai Menteri, profesor ini - jang gelarnja sudah ditetapkan agak lama oleh Presiden tapi belum djuga mendapat kesempatan pidato pengukuhannja dari pihak IAIN sendiri, dimana ia berchidmat sedjak berdirinja Institut tersebut-mengisap rokok Commodore-nja dengan setengah mengantuk, dan berkata: "Orang-orang biasanja lupa, bahwa hasil-hasil seperti Apollo dan sebagainja itu bermula dari Universitas".

Maka bila Apollo lahir dari Universitas, mengapa djurusan Ilmu Perbandingan Agama tidak boleh dianggap mempunjai sesuatu arti bagi penjebaran bibit saling-pengertian ilmiah untuh hal-hal jang lebih fundamentil dalam hubungan antar-agama? Dan menjemaikan sikap dewasa jang berfikir terbuka dan tidak lekas tersinggung. Tapi dalam soal singgung-menjinggung kasus terbesar jang paling menurunkan wibawa Departemen Agama sampai hanja berapa angka diatas nol adalah: peristiwa madjalah Sastra, 1968--1970.

Apa jang sangat pahit dalam peristiwa itu bukanlah ketersinggungan kalangan Islam dan kemenjinggungan Kipandjikusmin. Tapi polah jang dipertundjukkan kalangan resmi Islam jang dianggap tidak tahu bagaimana bersikap terhadap sesuatu jang bernama seni, jang sampai menjeret Jassin, tokoh jang mungkin memang tidak dikenal orang-orang Departemen Agama, kemedja pengadilan nan hidjau.

Kasus ini tiba-tiba muntjul kembali dikepala banjak orang waktu mendengar pengangkatan Mukti Ali: apakah dibawah Menteri baru ini Departemen Agama kira-kira akan masih tetap mempertundjukkan sikapnja nan inkwisitip? Filsafat estetika Sebuah grup diskusi periodik diselenggarakan ditempat kediamannja di Jogjakarta. Nurcholish Madjid, Ir Sjahirul Alim M.Se dan 10 atau 15 dosen dan mahasiswa ikut serta dalam The Limited Group (1967-1970).

Diskusi ini, jang mentjoba menjusun pikiran kearah penafsiran Islam jang segar dari herbagai aspek dan dengan beberapa sistim herpikir, memang tidak memberi perhatian istimewa kepada masalahmasalah kesenian aktuil jang tumbuh. Tetapi apabila sematjam konsepsi kesenian djuga dimasukkan dalam target diskusi bertahap itu, suasana disitu bukan lah "suasana kesenian Islam" seperti jang biasa dibajangkan sebagai penuh dalil dan penuh da'wah. Diskusi mentjoba mengerti bagaimana sebaiknja seorang muslim memandang seni sebagai seni dan dalam hal itu bersikap sebagai orang beriman.

Dengan pandangan jang kira-kira seperti itu pula ia bitjara tentang filsafat estetika, ketika diminta Persatuan Karjawan Pcngaral1g Indonesia (PKPI) Konsulat Jogja untuk membanding referat )ick Hartoko, pastor jang bergerak dalam bidang kebudajaan dan baru saling berkenalan malam itu. Tetapi djelaskan bahwa garis pandangan sematjam itu terlalu umum untuk dipakaikan pada kasus Langit Makin Mendung. Kalau tidak salah, untuk hal-hal sedjenis itu ia merasa tjotjok dengan sendagurau Prof. Baker: "Dikalangan saja djuga terdapat seniman-seniman. Seniman-seniman itu wah, susah. Mereka itu maunja didepan, tapi mereka itu wah, sukar dipaham". Untuk disimpulkan dalam satu kalimat kira-kira ia merasa termasuk orang tua "jang tidak begitu tahu perkembangan seni aktuil" dan dalam pada itu bersikap moderat.

Mengingat bahwa ia punja tjukup semangat pembelaan dalam hal Islam (ia menangkis dengan keras dan manis setiap "serangan" jang dilontar kan setjara terburu-buru) mustahil ia tidak merasa tersinggung, meskipun itu barangkali tak dinjatakannja. Tapi mengingat sikapnja jang liberal dan pluralis di tambah ketjenderungannja jang djauh lebih budaja daripada politis, mustahil pula ia akan termasuk mereka jang menuntut sebuah tjerita pendek dan dengan begitu dichawatirkan menganbam kebebasan kreasi, hal jang djustru diulang-ulanginja dimana-mana.

Dan sikapnja jang liberal itu pula jang memungkinkannja untuk mengizinkan pikiran-pikiran jang aneh sekalipun tentang agama, asal sadja bersedia didebat. Orangpun sekali lagi boleh mengingat Nurcholish Madjid -- "meskipun djelas Mukti lebih senior " kata Arief Budiman -- bila ia berkata: "Lebih baik berkreasi dan salah daripada memegangi kesimpulan-kesimpulan jang djumud", jang beku. Tetapi semangat pembaharuan itu sebenarnja tidak pula terlalu garang muntjuh1ja dari Mukti: dalam sikapnja keluar ia seorang moderat, meskipun lugas.

Hal itulah jang menjebabkan beberapa mahasiswanja jang lebih ekstrim dalam tindak maupun pikiran mentjap dia sebagai kompromistis dan betapa pun djuga konvensionil. Tapi siat moderatnja rupanja memungkinkan dia untuk berdiri diantara golongan-golongan. Sebagai seorang jang dianggap warga Muhammadijah ia dibekali pendidikan dibeberapa pesantren NU dan dekat dengan para kijai, sementara iapun menjaring pikiran-pikiran Ahmadijah.

Dan sifat moderat pula jang memungkinkannja tetap bertahan di IAIN sementara keserakahan politik NU lewat peristiwa IAIN 1963 jang pahit itu, telah melemparkan rekan-rekannja dan mahasiswa-mahasiswanja jang baik kedalam tahanan: dari jang tiga hari sampai jang dua setengah tahun, tanpa proses pengadilan. Drs Kafrawi MA, Prof. Mahmud Junus, HAM Arifin Temyang, H. Anton Timur Djaelani MA adalah sebagian dari sederet nama jang sangat pandjang. Dan disana di Jogja, dalam keadaan njaris terpentjil dihormati tanpa diberi kekuasaan, dan sementara itu dibiarkan melarat, dengan daja tahan jang kadang mengherankan Mukti Ali menjumbangkan diri dibidang-bidang ilmiah: lembaga Tafsir Qur'an, pemimpin redaksi madjalah Al-Djami'ah, perbaikan kurikulum, literatur-literatur, skripsi-skripsi. "Prinsip saja, saja akan berbuat baik bersama siapa sadja", katanja. Bagaimanakah orang seperti itu akan berhadapan dengan sekian problim Departemen Agama jang raksasa dan korup?

Pesan Kakak
Hari itu, pada upatjara serah-terima, Menteri KHM Dachlan berdiri dari kursinja. Inilah Menteri jang oleh seluruh pegawai dikantornja umumnja dinilai sebagai "orang keras jang bersikap kebapakan dan enak dalam bergaul". Dan hari itu, sebagai seorang kakak kelahiran Pasuruan, ia berpesan kepada adiknja jang lahir di Tjepu: "Jang terpenting saudara harus kerdjakan adalah, mentertibkan aparat Departemen Agama dari pusat sampai daerah-daerah. Soal guru-guru agama dimana sebagian pengangkatannja ada jang benar dan ada pula jang tidak benar. Bagi jang henar agar di rehabiliter sedangkan mereka jang tidak benar hendaknja diambil tindakan tegas kalau perlu kemedja hidjau. Penertiban jang hendak dilakukan haruslah dengan penuh kebidjaksanaan.

Dachlan menjadari benar apa jang tidak sempat diselesaikannja. Tapi masalah kebrengsekan Departemen Agan1a tentulah djauh lebih kompleks dari itu. Kingkasnja Departernen ini jang tumbuh sedjak 3 Djanuari 1946 sekarang merupakan satu dunia tersendiri jang komplit dengan segala borok pada setiap sel-selnja dan birokrasi jang menghambat setiap langkah. Seperti diterang kan beberapa orang dari kalangan dalam hanja kemampuan kebesaran dirilah jang terus-menerus mendorong orang membentuk biro atau badan atau lembaga ataupun membuka tjabang-tjabang IAIN bahkan dikota-kota ketjil sematjam Metro di Sumatera Selatan.

Dengan lima Direktorat jang semuanja tergabung dalam Direktorat Djenderal Bimasa (Bimbingan Masjarakat Beragama) Islam - disamping Ditdjen Urusan Hadji dan Ditdjen-Ditdjen untuk Bimasa-Bimasa Kristen, Katolik dan Hindu--Budha, seluruh pegawainja sekarang berdjumlah sekitar 134.000. "Nomor dua setelah P & K", dengan bangga berkata Kepala Humas Departemen Agama, Bahalwan kepada reporter Leopold Gan. Tentu, tubuh wadag jang makin lama makin menggembung itu tidak mampu disesuai kan dengan anggaran belandja --jang lebih 90% habis untuk membajar pegawai Sistim birokrasi jang ruwet dalam pada itu telah mengakibatkan kerugian dibidang lain urusan hadji misalnja, jang sebenarnja tjukup diurus Departemen Agama ditingkat atas sementara dibawahnja diserahkan kepada pemerintah daerah ataupun travel-biro -- kalau tidak boleh diusahakan swasta mendjadi kelewat mahal setelah dioper semuanja oleh Ditjen Hadji.

Antara Langit Dan Sumur
Tetapi diantara organ-organ Departemen itu jang paling parah adalah Direktorat Pendidikan Agama. Disinilah misalnja terdapat pengangkatan guru-guru agama jang orangnja tak pernah lahir ke dunia, seperti jang untuk sekian kalinja dikabarkan terdjadi baru-baru ini. Pada perhitungan tahun 1968 sadja guru-guru imadjiner ini, menurut satu sumber dari dalam, berdjumlah 40.000 manusia.

Dan sementara itu kesimpang-siuran dalam penggunaan anggaran terdjadi dimana-mana. Satu dana jang disediakan untuk daerah kadang mengeluh karena gadji tak sampai dan sementara idjazah-idjazah UGA misalnja Udjian Guru Agama diperdagangkan. Hari demi hari berdjalan. Dan pegawai-pegawai baru terus mengalir masuk satu pos tiba-tiba distop dan dialihkan kepos lain untuk dalam waktu tidak lama distop lagi. Tetapi anak-anak IAIN jang bermaksud mengadakan perdjalanan riset untuk skripsi dan bisa mengurusnja boleh mendapat bantuan sedjumlah Rp 100 sampai Rp 150 ribu per orang sementara guru-guru agama didaerah Mukti Ali sendiri pernah menjatakan dalam satu prasaran, bahwa anak-anak IAIN misalnja, pada achirnja praktis akan masuk berdjubel kedalam Departemen Agama, membikin Departemen itu mendjadi lebih tegang dari jang selama ini sudah terdjadi.

Konon pula-meskipun ini tak dikatakannja - pengangkatan-pengangkatan itu mensjaratkan keanggotaan partai. Dari kalangan Departemen sendiri orang menjingkapkan bahwa pembukaan tjabang-tjabang IAIN dikota-kota ketjil, tak urung hanjalah di maksud memberi tempat kepada "warga negara partai bagi hak-hak mereka jang terlindungi. Orang melihat bahwa sepertinja djuga di Departemen Dalam Negeri dahulu, monolojalitas partai ini berdjalan dari tingkat paling puntjak sampai ke penghulu-penghulu dikampung-kampung. Belum lagi disebutkan buku-buku standar untuk petugas-petugas Kantor Urusan Agama jang usang mutu pendidikan jang sangat rendah disekolah-sekolahnja dan sangat penting adalah semangat berpikir jang dibandingkan dengan Menteri jang baru bagaikan djarak antara langit dan sumur. Menghadapi hal-hal itu apa jang akan diperbuat Mukti?

Tidak berdjandji
Mukti Ali duduk dengan tenang dan tersenjum-senjum Tapi dikantor Sjariruddin MA (bukan titel) Direktur Direktorat Pendidikan Agama menjatakan pada reporter Yusril Djalinus bahwa sekarang ini sedang terdjadi kegelisahan. Apakah kegelisahan itu disebabkan karena berita-berita bahwa Menteri Agama akan mengurangi djumlah pegawai sebanjak 70.000 orang? Selain menutup setidak-tidakna empat buah IAIN di kota-kota tertentu dan menghentikan pembukaan tjabang-tjabang baru?

Rupanja bukan itu tapi jang lain lagi. Dengan suara pelan: Issue jang terdengar jaitu Pak Mukti akan mengganti pedjabat-pedjabat jang bukan keluaran sekolahan". Tentunja tak benar jang akan diganti adalah orang-orang bukan sekolahan. Tapi jang konon kabarnja penting terutama untuk Departemen Agama ialah apabila ukuran pegawaian didasarkan hanja pada tiga hal: pertjakapan dalam protesi ketjakapan administrasi dan lojalitas kepada pembangunamn. Dan memang hanja tentang ukuran itu sadja bekas Wakil Rektor IAIN dan pegawai Departemen itu lihat (box) mau bitjara.

Mengingat Departemen Agama selama ini menarik karena sifatnja jang chas sebagai pertjampuran besar-besaran antara dosa-dosa dan agama dan semuanja diperkenalkan keluar sebagai bermerek surga - maka tak terlalu aneh bila pengangkatan seorang Menteri baru disitu jang dianggap agak lain dari biasanja akan menjebabkan orang berpikir jang bukan-bukan. Maka walaupun Mutki Ali tidak berdjandji orang toch menunggu. Setidak-tidaknja menunggu untuk ketjewa.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1971/10/02/AG/mbm.19711002.AG58128.id.html (Accessed on 6/23/2011)

No comments:

Post a Comment